MENU

Senin, 18 November 2019

Ziarah ke Makam Ki Juru Mudi Mbah Wayah Sebagai Cagar Budaya Indonesia yang ada di Kota Pekalongan


Ziarah ke Makam Ki Juru Mudi Mbah Wayah Sebagai Cagar Budaya Indonesia yang ada di Kota Pekalongan - Sejarah tidak akan bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dari sejarah kita bisa melihat kacamata masa lalu, agar pijakan di kehidupan di masa yang datang tidak terulang seperti masa lampau. Banyak hal-hal penting yang bisa kita pelajari dari sebuah sejarah, dari peradaban, perjuangan, jatuhnya sebuah negara, perlawanan, cinta, mengenal pahlawan, dan bagaiman ibu pertiwi bangkit.


cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya pekalongan cagar budaya di Pekalongan cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Krapyak Kidul Gang 8



Hampir dua tahun sudah saya beraktivitas di kota Pekalongan. Kota yang dinobatkan menjadi Kota Kreatif Dunia oleh UNESCO di tahun 2014. Pekalongan juga dikenal dengan kota yang memiliki banyak heritage (Peninggalan Sejarah). Dari budaya, bangunanan, arsitektur dan lain sebagainya. Tercatat dalam buku Inventaris BCB Kota Pekalongan ada 28 Cagar Budaya Indonesia yang dimiliki oleh Kota Pekalongan. Luar biasa!

Mengenal Sosok Ki Juru Mudi atau yang Akrab disapa Mbah Wayah


Ketika saya membuka kembali buku inventaris, yang memuat bangunan-bangunan bersejarah di Pekalongan. Entah kenapa saya kepengen mampir ke Makam Mbah Wayah yang ada di Kelurahan Krapyak, Pekalongan. Melihat foto yang sudah lama tersebut, membuat saya penasaran apakah sudah ada perbaikan yang terjadi di tahun 2019 ini kepada makam Mbah Wayah? Akhirnya Minggu, 17 November 2019 kemarin saya bersama suami menyempatkan waktu untuk bertandang mencari makam Mbah Wayah berbekal dengan alamat yang ada di buku.


Kisah Sejarah Ekspedisi Militer Kerajaan Mataram Pada Tahun 1628 - 1629 M


cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya solo cagar budaya magelang cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Makam Mbah Wayah dari Samping



Alkisah seorang Pemuda yang gagah berani utusan dari Kerajaan Mataram, menuju Batavia pada tahun 1628 - 1629 M dengan menaiki kapal bersama rombongan tersebut dipimpin oleh Juru Mudi yang bernama Dirman.

Dalam perjalanan panjang melewati barat dan menelusuri laut Utara Jawa, mereka berunding di tengah perjalanan. Ada firasat yang mengatakan bahwa misi dari tugas tersebut tidak akan berhasil, meski perjalanan tersebut dilanjutkan. Tanda-tanda kegagalan misi tersebut juga dirasakan para sesepuh yang hadir dalam rombongan itu. Maka harus diputuskan, prajurit bersama perbekalan yang lengkap itu diperhitungkan matang-matang.

Pada akhirnya kesepakatan bersama dibuat, mereka tidak jadi berangkat untuk mengemban misi perang menuju Batavia, karena firasat yang akan dialami oleh pekerjaan itu sia-sia. Bukan karena mereka kalah sebelum berperang, tetapi karena sudah sering melakukan peperangan, baik perang besar maupun kecil. Namun firasat pada saaat itu sangat kuat, daripada rombongan prajurit tersebut mati sia-sia mereka memutuskan untuk singgah dahulu di pantai Krapyak.

Dengan kemampuan pengalaman yang dipunyai oleh prajurit, mereka mengembangkan keahliannya di daerah Krapyak. Dari bercocok tanam, berdagang, dan juga membuka lahan baru serta kehidupan yang baru. Karena penyebaran Islam waktu itu sudah kental, mereka pun mendirikan Mushola sebgai tempat ibadah.

Kapal yang ditancapkan dengan jangkar di pesisir Hutan Krapyak, terkubur atau terurug oleh tanah karena sudah beratus tahun lamanya. Namun, rantai dan jangkarnya masih tetap apik dan awet. Sayangnya dicuri oleh orang, padahal jangkar dan rantai kapal tersebut dipercaya oleh penduduk setempat sebagai benda yang bisa menangkal adanya badai.

Waktu yang berlalu, dan rombongan kapal Mbah Wayah pun akhirnya menjadi penduduk setempat. Bahkan pemuda yang dijuluki sebagai Mbah Wayah atau Mbah Dirman, menghembuskan napas terkahir di kelurahan Krapyak. Dahulu desa tersebut bernama Kampung Koloduto, yang memiliki arti Orang Pendatang dari Utusan Perang.

cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya pekalongan cagar budaya di Pekalongan cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Makam Mbah Wayah dari Dalam


Tradisi Udik-udikan di Makam Mbah Wayah


Tidak sulit menemukan Kelurahan Krapyak yang ada di Kota Pekalongan ini, asal sesuai dengan google map. Saya dan suami menurut alamat yang tertera di buku, ‘Kelurahan Krapyak Kidul Gang 8. RT 14, masuk ke arah Barat belok kanan masuk ke Gang 5.A’. Dari situlah saya menemukan makam Mbah Wayah, setelah bertanya-tanya kepada warga Gang Krapyak.

Semua yang ada dalam pikiran, soal foto yang ada buyar sudah. Karena penampakan makam Mbah Wayah sekarang sudah berubah total, terlihat seperti rumah. Walaupun ukuran panjangnya 2 M2 dan lebar 5 M2, Makam Mbah Wayah nampak  luas dan adem ketika disinggahi.

Sebelum masuk ke Makam Mbah Wayah, saya mencari tahu warga yang bernama Bapak Munawar, karena beliau yang dikuasakan atas status kepemilikan merujuk pada buku tersebut. Ternyata Bapak Munawar ini sudah meninggal, dua tahun yang lalu. Inalillahiwainailaihirojiun, oleh putri tertua beliau saya dipersilakan untuk ziarah.

"Monggoh, langsung saja Mbak. Nggak apa-apa, di situ sudah ada kitabnya, kalau mau berdoa," ucap beliau dengan ramahnya. Kemudian kami berdua ditinggal.

Saya dan suami lantas mengambil kitab Yasin yang bersampul biru tersebut, dan mulai mendoakan beliau. Syahdu rasanya, bisa benar-benar datang padahal hanya sekelebatan keinginan. Ramai anak-anak yang berteriak dan saling mengintip, membuat kekhusyukan kami agak sedikit teralihkan. Mereka berbisik-bisik dengan kata-kata yang baru saya dengar sekali itu, "Meh ono Udik-udikan yo?" (Apa mau ada Udik-udikan ya?)


cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya pekalongan cagar budaya di Pekalongan cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Makam Mbah Wayah Tampak dari Pintu Masuk


Ternyata yang dimaksud dengan kata, 'Udik-udikan' ini adalah salah satu adat atau kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hajat waktu datang ke Makam Mbah Wayah ini. Yakni tradisi membuang uang receh, ketika apa yang diinginkan tergenapi. Tradisi ini kurang lebih sama ketika ada seseorang setelah melahirkan bayi dan melakukan ritual cukur rambut. Ada tradisi membuang uang receh, yang kemudian dikeroyok oleh warga kampung. Demikian halnya dengan pengertian 'Udik-udikan' yang dimaksud warga.
"Mau ada Udik-udikan Mbak?" Seorang Ibu dengan rambut yang agak disemir blonde itu bertanya. Meski sudah sepuh beliau tampil dengan nyentrik.

"Udik-udikan itu apa sih Buk?" Ucap saya benar-benar penasaran, dan kemudian beliau menjelaskan dengan gamblang. Barulah saya mengerti dan sempat takjub karena geli juga. Niat saya awalnya bertakziah, jadi tahu ada tradisi semacam itu. Bahkan saya disuruh datang lagi ketika malam Juma'at Kliwon, atau Jum'at Legi, karena pada hari itu di Makam Mbah Wayah akan ramai orang berdoa dan ada tradisi Udik-udikan tersebut.


Fakta Makam Mbah Wayah Adalah Makam yang Sakral


Semasa hidupnya Mbah Wayah dikenal dengan pribadi yang jujur perilakunya, kerendahan hati yang dimilikiya dan ucapannya selalu baik. Beliau dikenal orang yang mudah memberikan pertolongan. Wayah dalam bahasa jawa berarti, waktu. Mbah Wayah ini jika dipintai pertolongan oleh warga setempat tidak mengenal waktu (Sak Wayah-wayah), ya dilakukan.

Jadi fakta mengenai makam Mbah Wayah yang sakral ini, saya dapatkan infromasinya langsung dari warga setempat termasuk dari putri Bapak Munawar salah satu dari 3 orang Juru Kunci Makam. Apabila ada orang yang memiliki perkara, urusan yang menyangkut kepercayaan. Mereka biasanya datang ke Makam Mbah Wayah untuk melakukan Sumpah.


cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya pekalongan cagar budaya di Pekalongan cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Makam Mbah Wayah yang Bersih


"Seringnya orang yang selingkuh datang kemari Mbak, untuk melakukan Sumpah," ungkap ibu dengan rambut blonde yang nyentrik tersebut, "yang datang dari jauh-jauh, Mbak!" Lanjutnya meneruskan percakapan kami.

"Kalau ada orang yang berani sumpah palsu, ya nanti kejadian beneran sumpahnya. Tapi kalau mereka sumpah yang benar-benar tidak melakukan kecurangan, ya Alhamdulillah tidak kenapa-kenapa, Mbak!" Tegas putri bapak Munawar. Saya dan mas suami manggut-manggut mendengarkan, sembari sesekali menimpali.

Makam Mbah Wayah ini ternyata sudah pernah memiliki 3 orang juru kunci, adalah Bapak Saleh yang menjaga dari tahun 1957, Bapak Syakur Yakup dari tahun 1978 dan Bapak Munawar dari tahun 2008 sampai dengan 2017. Sekarang Makam Mbah Wayah lebih dikelola oleh warga setempat, dan pembangunan lokasi makamnya sudah berlangsung sejak tahun 1964. Waktu itu oleh Bapak Ning, Komandan Kodim Pekalongan dan Bapak Suharjo Rekso Atmojo, Camat Pekalongan Timur pada waktu tersebut.

cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya solo cagar budaya magelang cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Gang 5 A, Tembusan dari Gang 8 Krapyak Makam Mbah Wayah


Alhamdulillah dengan menjelajah kembali cerita di balik Cagar Budaya Makam Mbah Wayah yang ada di Kota Pekalongan dan dimiliki Indonesia ini, jadi membuat saya bangga. Banyak sekali sejarah yang tersimpan beserta tradisi dan keunikannya. Mungkin kalau kita hanya diam di tempat, dan tidak langsung menelusuri sejarahnya ya pengetahuan kita sebatas itu saja. Kalau dikenali lebih dekat begini, jadi terasa lebih menentramkan dan menambah pengalaman. Karena selama ini orang hanya mengenal Kota Pekalongan dengan Kota Batik, padahal banyak heritage bersejarah termasuk banyak makam yang menjadi Cagar Budaya Indonesia.

Bagaimana kalau mulai sekarang kita saling melestarikan Cagar Budaya Indonesia, yang ada di Kota terdekat? Dengan cara mengunjunginya langsung, dan menelisik sejarahnya. Ini seru dan akan semakin membuat kita mencintai Tanah Tumpah Darah kita dilahirkan. (*)

Mari Berpartisipasi pada Kompetisi "Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!"


cagar budaya cagar budaya adalah cagar budaya di jawa tengah cagar budaya solo cagar budaya magelang cagar budaya klaten cagar budaya kota magelang cagar budaya salatiga cagar budaya kebumen cagar budaya banyumas cagar budaya tingkat nasional
Flyer Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah






Kenali Cagar Budaya Indonesia Lebih dalam  Melalui Kanal ini :

Instagram         : @cagarbudayadanmuseum
Website            : kebudayaan.kemdikbud.go.id/
Alamat             : Komplek Kemdikbud Gedung E Lt.4. Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta 10270
Email                : kebudayaan@kemdikbud.go.id
Telepon             : (021) 5731063, (021) 5725035

Sumber tulisan :


Buku Investari BCB Kota Pekalongan Tahun 2017
Wawancara masyarakat setempat
Foto by dokpri edited by canva

49 komentar :

  1. Aku ke sini harus tanya2 soalnya pas tak telusuri jalannya memang agak muter2, tapi sekarang tempatnya sudah bagus ya ternyata.

    BalasHapus
  2. kalo menyangkut sejarah gini, aku jg seneng mba. apalagi kalo ada warga ato guide yg tau cerita komplitnya. jd kita ga cuma sekedar datang gitu aja :). Sering dtg ke pekalongan, aku jg taunya ini kota batik dan kuliner tautonya :).ternyata wisata sejarahnya ada juga.

    BalasHapus
  3. makam leluhur seperti ini sering kita jumpai di tiap kota di Indonesia ya mbak, Pekalongan salah satunya. Saya taunya Pekalongan ini kota batik :)

    BalasHapus
  4. Habis baca ini aku langsung buka jendela baru dan mengetik cagar budaya di google, lalu tertarik dengan artikel dari situs belajar(dot)kemdikbud(dot)go(dot)id tentang cagar budaya.

    Semua dijelaskan dengan lugas di sana.
    Dapat pencerahan lagi...

    Terima kasih Nyi...

    BalasHapus
  5. salah satu yang tidak terpisah dari sejarah adalah hal-hal mistis ya mba. seperti melakukan sumpah didekat kuburan lama

    BalasHapus
  6. belum pernah ke Pekalongan sih, tapi ternyata kerajaan mataram juga tersebar dibeberapa daerah ya

    BalasHapus
  7. Wah, saking sakralnya sampai didatangi orang selingkuh untuk sumpah, baru tahu ada yang seperti ini. Selama ini tahunya Pekalongan = batik = belanja hehehe

    BalasHapus
  8. aku abis baca ini langsung mikir, kayaknya budaya indonesia emang kental dengan hal-hal mistis ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajaibnya...karena diyakini, jadi kejadian beneran yaa, teh..
      **The Power of belief

      Hapus
  9. Semoga makam ini menjadi cagar buday yang terawat dan terjaga ya Mba. M

    BalasHapus
  10. Keren banget ulasannya. Saya baru tahu dengan fakta kota Pekalongan pernah dinobatkan sebagai kota kreatif dunia pada tahun 2014. Bangga sekali rasanya. Bisa jadi ide untuk liburan selanjutnya nih!

    BalasHapus
  11. Aku baru tahu tentang kota Pekalongan yang dinobatkan sebagai kota kreatif dunia di tahun 2014. Sangat membanggakan ya! Juga dengan informasi mengenai kanal cagar budaya resmi dari kemdikbud.. Aku jadi dapat ide baru untuk liburan nih. Terimakasih infonya Nyi ❤️

    BalasHapus
  12. Aku baru tahu istilah udik-udikan mbak. ternyata itu toh artinya. Thanks for sharing kisahnya Ki Juru Mudi Mbah Wayan, jadi nambah pengetahuan

    BalasHapus
  13. Ya ampun itu yang nyuri jangkar sama rantai kapalnya siapa sih. Kok aku kzl, itu kan peninggalan sejarah ... Baca dari sini jadi tahu deh ada makam mbah Wayah yang orangnya selain pemberani juga senang membantu orang tanpa mengenal waktu. Terima kasih, ku jadi tahu tradisi udik-udikan juga hehehe.

    BalasHapus
  14. Saya pun suka pelajari tentang sejarah.
    Tapi cukup tau aja cagar budaya sebagai peninggalan sejarah, gak perlu diyakini segala sesuatu yang berhubungan dengan hal spiritual.

    BalasHapus
  15. Ak belum pernah ziarah-ziarah mba yang seperti orang-orang ternama pada zaman dulunya, sangan inovatif sekali jadi pengen

    BalasHapus
  16. makam tua seperti ini memang harus dirawat yaa, Mba :)
    di daerahku, ada beberapa makam tua yang masih sering diziarahi orang-orang sampai saat ini

    BalasHapus
  17. memang kita wajib ya menjaga aset cagar budaya Indonesia supaya nanti anak cucu juga bisa melihat

    BalasHapus
  18. Memang gak ada habisnya ngomongin Pekalongan, mulai dari batiknya, makanannya, tempat wisata termasuk situ atau makam orang bersejarah, lalu banyak blogger dan vlogger pula di Pekalongan yang mengabadikan setiap momen dan tempat menarik di Pekalongan. Kewren.. Makin dikenal dunia deh

    BalasHapus
  19. Sifat dermawan Ki Juru Mudi ini sangat patut untuk diteladani, ya. Tadinya saya sudah menebak-nebak arti namanya, ternyata benar

    BalasHapus
  20. Wah, area makamnya sangat dijaga dengan baik kebersihannya ya. Jadi peziarah juga bisa nyekar dengan nyaman. Btw aku gagal fokus sama gapura mba, aku suka deh liat bagunan - bangunan etnik gitu. Kesannya asri, adem dan sangat Indonesia.

    BalasHapus
  21. kezel banget, kenapa sih segala dicuri jangkarnya, dijual ke tukang loak besi besi apa gimana ya itu? aduh keterlaluan:(

    BalasHapus
  22. Waah banyak banget info baru yang kudapetin dari postingan ini. Makasi kaaak. Btw aku tiap tahun kalo mudik lewat pekalongan. Semoga bisa mampir ke sini ya

    BalasHapus
  23. Tradisi udik-udikan mirip sama tradisi saweran di daerah aku. Bedanya, kalau saweran itu lebih ke buat syukuran gitu, kalau ada rezeki atau anak baru bisa jalan gitu biasanya saweran buat orang kampung/tetangga.

    BalasHapus
  24. Boleh ya berziarah ke makam dan mendoakan ahli kubur, namun wajib hati-hati juga supaya jangan sampai mengikuti ritual yang tidak sesuai kaidah :)

    BalasHapus
  25. Senang banget aku mbak dengar cerita perjalanan ziarah ke cagar budaya.. Kalau aku balik tinggal di Jawa, aku mau main2 ke sana juga hihi

    BalasHapus
  26. Aku baru tahu ada cagar budaya berupa makam Mbah Wayah ini, sepertinya memant jarang terekspos yah

    BalasHapus
  27. Kalo gak mampir kesini gak bakaln tau asal usulnya deh mba. Suka banget kalo baca sejarah suatu tempat kaya gini sambil baca sambil membayangkan gimana kondisinya jaman dulu.

    BalasHapus
  28. Pekalongan punya banYak cagar budaya yang kereen dan sarat sejarah ya mba. Seruu pasti menjelajahinyaa

    BalasHapus
  29. Aku selalu mau explore Pekalongan. Tapi cagar budaya yang mau aku datangi berhubungan sama sejarah batik. Seru kayanya mendengar cerita motif batik yang berevolusi sesuai dengan jamannya saat itu.

    BalasHapus
  30. Tradisi udik-udikannya mirip nyawer pas nikahan gak sih? XD seru tuh pasti pas rebutan recehannya wkwkwk.. btw cagar budayanya semoga bs dilestarikan terus..

    BalasHapus
  31. di Pasuruan juga ada daerah yg namanya Krapyak. tapi gak ada makan yg diziarahi banyak orang sih. baru tahu udik2an berarti warga sekitar bakal berkumpul buat ambil uang recehnya, gitukah?

    BalasHapus
  32. Aku baru tahu kalau Pekalongan jadi kota kreatif gitu. Ahaha. Kayaknya aku harus main ke Pekalongan juga nih, biar makin kaya ilmu sejarah bangsa.

    BalasHapus
  33. Aku belum pernah ke Pekalongan baca tentang ini kok ya aneh yah datang ke makam buat bersumpah heheheh apalagi yang datang bareng selingkuhan :D

    BalasHapus
  34. Makannya dijadikan tempat keramat banget ya. Ngeri ih kalau ada yang berani sumpah di depan makam kaya gitu, kenapa harus di depan makam ya.

    BalasHapus
  35. Sayang yah, kalau bersumpah di depan makam. Lebih baik berziarah ke makam menjadikan kita untuk selalu ingat akan kematian, bahwa yang bernyawa pasti akan mati dan dimakamkan

    BalasHapus
  36. Pekalongan ya? Lumayan jauh dari Jakarta hihi. Kalo mudik ke Tegal juga masih sekitar 2 jam ya? Aku pernah ke pekalongan sebentar, pulangnya beli batik hihihhi

    BalasHapus
  37. Kapan-kapan harus banget wisata sejarah ke Pekalongan nih mba, biar taunya bukan cuma batik aja. Tapi emang peninggalan sejarah gini selalu ada cerita mistisnya ya. Bergidik juga nih aku ttg sumpahnya orang yang selingkuh kalau beneran melakukan akan kejadian sesuai sama sumpahnya. Hiii..

    BalasHapus
  38. Membuang uang receh, hehe...unik juga tradisi udik-udikan ini ya. Aku belum pernah ke Pekalongan, menarik juga kayanya wisata sejarah dan batik-batikan :)

    BalasHapus
  39. Saya belum pernah ke Pekalongan, selain terkenal dengan batiknya ternyata Pekalongan mendapat predikat Kota Kreatif di dunia tahun 2014. Baru tahu juga tentang makam mbah Wayah dan tradisi udik-udikan. Area makamnya masih terawat dengan baik ya.

    BalasHapus
  40. Aku belum pernah ziarah sampai ke Pekalongan nih mbak, semoga aja makamnya selalu terawat ya meskipun banyak peziarah yg datang

    BalasHapus
  41. Aku jadi bisa tahu sejarah tentang Mbah Wayah ini, jadi pengen ke Pekalongan biar bisa eksplore kota batik Pekalongan

    BalasHapus
  42. Uapiik tenan gaya berceritamu, Nyi shayaang~
    Aku terbius untuk tahu sejarah Mbah Wayah.
    Aku salutnya sama orang Jawa itu...sangat mempertahankan budaya dan tradisi mereka.
    Jadi unik dan memberi kesan yang dalaaam.

    BalasHapus
  43. Cagar budaya harus benar2 dirawat dengan baik. Itu jangan sampe punah.

    BalasHapus
  44. Tradisi kayak gini harus dilestarikan ya mba. Suoaya generasi oenerus kita gak kehilangan jejak sejarah bangsanya.

    BalasHapus
  45. Belum pernah ke sini. Tapi memang banyak banget ya tradisi-tradisi Indonesia khususnya hal yang seperti ini. Aku juga baru tahu soal udik-udikan ini

    BalasHapus
  46. wahh yakin jane menarik seng koyo ngene, perlu terus dilestarikan

    BalasHapus
  47. Cagar budaya bener2 harus dilestarikan dgn baik ya, soalnya ini kan termasuk warisan negeri.. Biar bisa dinikmati sampe punya anak cucu besok..

    BalasHapus
  48. Waah pernah dengar juga di daerah Jawa lain tradisi lempar receh tapi lupa namanya apa. Btw yang sumpah itu mirip2 sunpah pocong bukan Mbak? Aku kok jadi ngeri yah hehe

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balikku ya. Salam!