Selasa, 12 Juli 2016

Jualan Gandos Kelapa Pak Yoyok Berhasil Menguliahkan Anaknya



Bloggerkendal.com – Gandos-gandos kelapa itu baru saja masuk ke dalam cetakan loyang, dengan api yang panas berada di bawahnya. Sembari menunggu gandos kelapanya matang, lelaki separuh baya itu membersihkan remah-remahan yang tercecer pada gerobak dagangannya.

Pagi ini saat mencari sarapan ke sana-kemari, saya tidak menemukan warung yang buka. Di Pertigaan jalan depan masjid Kaliwungu, saya menemukan penjual gandos kelapa. Akhirnya saya memutuskan untuk sarapan gandos, alih-alih mengusir rasa lapar.



Siapa sangka, hanya berjualan gandos kelapa pak Yoyok berhasil menguliahkan anaknya, di ibukota. Bagaimana dengan kita? Saya, kamu, kalian, apakah harus menyerah begitu saja melepaskan impian, saat keterbatasan menghimpit dan menjadikan kita mulai pasrah?

"Bapak aslinya mana?" tanya saya ketika ia berbicara dan logatnya bukan berasal dari Jawa.
"Saya Tasik, Neng!" jawabnya sambil mengumbar senyum ramah.
"Oh berarti lebaran kemarin, mudik dong ya?" ucapku meneruskan percakapan, karena gandos yang kupesan belum matang.
"Iya, Neng. Mudik sebentar, balik lagi jualan."
"Wah, kangen-kangenannya cuma sebentar doang Pak?"
Bibirnya mengulas tawa lebar, "Hahaha ... iya Neng, udah biasa."
"Hah? Lha memang Bapak udah di sini berapa lama?"
"Delapan tahun, Neng," singkatnya, lantas membuka tutup loyang gandos. Meratakan adonan, melihat tekstur barisan gandos yang sedang dipanggang. "Anak saya kan masih kuliah , Neng."
"Lha yang paling kecil Pak?"
"Masih SD kelas 5," jelasnya dengan ramah.

Gandos Kelapa

Ah si bapak, membuat saya kagum saja dan saya jadi mengingat bapak saya sendiri yang entah di mana. Semoga Allah senantiasa melindunginya. Seandainya semua bapak di dunia bertanggungjawab dengan amanah yang diembannya, mungkin tidak akan ada anak-anak yang berkeliaran di jalan, anak-anak broken home yang menjadi korban. Walaupun bukan berasal dari keluarga yang nggak utuh jangan pernah menganggap hidup kita nggak utuh juga.



Teruslah mengingat, pada setiap kesedihan yang datang, akan ada kebahagiaan yang menjelang. Yakinlah bahwa air mata yang kita keluarkan sekarang, kelak akan menjadikan sebuah senyuman. Kita masih punya mimpi yang harus diperjuangkan, sama seperti pak Yoyok yang terus berjuang untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya, menjadi pemimpin, lelaki yang bertanggung jawab untuk istrinya. Menafkahi juga membahagiakan keluarganya. Dan kita nggak boleh menyerah begitu saja, pak Yoyok yang sudah sepuh aja bisa, kita yang masih muda-muda ini kenapa enggak bisa?



Nggak ada satu orang pun yang bisa mewujudkan mimpi kita selain kita sendirilah yang mewujukan.

"Pak boleh izin, minta fotonya bapak?" kataku kemudian mengambil ponsel.
"Waduh Neng, makasih," kata pak Yoyok, dengan senyuman. Hhmmm  ... Makasih untuk apa coba pak Yoyok ini, batinku dalam hati. Justru aku yang seharusnya harus bilang terima kasih.



Karena gandos pesananku sudah matang, aku mengakhiri percakapanku dengan pak Yoyok. Aku mungkin tidak bisa membantu banyak bahkan membahagiakan semua orang, tetapi setidaknya aku bisa sedikit membahagiakan pak Yoyok dengan membeli dagangannya. Terima kasih untuk pelajaran hari ini Pak, terima kasih telah mengajari tentang kenyataan. Yang harus kita percayai, Tuhan tidak akan menguji hambanya, jika Tuhan nggak yakin hambanya mampu menghadapinya. Mari lebih bersemangat untuk menjalani setiap ujian yang diberikan Tuhan.


2 komentar:

  1. Jempol banget ya semangatnya, seandainya semua ayah punya semangat seperti pak Yoyok ...

    BalasHapus

Terima Kasih telah berkunjung ^_^